Ketika Futur Berbuah Pahala dan Hidayah

Posted by Sultan Abdurrahman On 21.49

Dalam kitab Lisaanul ‘Arab karangan Imam Ibnul Mundzir rahimahullah, futur secara bahasa berarti diam setelah giat, dan lemah setelah semangat. Secara istilah, futur berarti meninggalkan atau mengurangi amal keta’atan yang telah biasa dilakukan. Futur pada dasarnya merupakan hal yang sangat harus diwaspadai sebab ia dapat menjadi penyakit yang sangat berbahaya dan membawa bencana yang besar bagi pengidapnya. Namun, ternyata futur tidak selalu membawa bencana. Futur bahkan dapat membuahkan pahala dan hidayah jika ditangani dengan tepat, sesuai dengan petunjuk Rasulullah ﷺ.

Menata hati, tatkala jalan dakwah hening menyepi.

Posted by Sultan Abdurrahman On 21.11



 
Oleh: Rendra Sahaja

Barangsiapa hendak pergi berjuang
Niat yang lurus selalulah dipasang

Tiada dipungkiri lagi, bahwasannya hati senantiasa bergejolak, tiadalah ia konstan merasakan gelora semangat, ada kalanya rasa lemah itu melekat menggerogoti tiap sendi perjuangan, menolak sepakat akan kegiatan positif yang telah berjejer rapi dalam diary . sejenak kita merenung, bila kita tiada enggan membuka kembali lembaran silam  tentang sejarah perjuangan para sahabat, yang mengadukan perihal kelabilan ghiroh yang ia rasa, adalah  Hanzhalah yang dijangkiti virus ini, lemah bila jauh dari Rasulullah, kembali semangat bila ia dekat di sampingnya. Maka Rasulullah Saw dengan bijak menjawab,
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian senantiasa berada di sisiku [bersemangat] dan senantiasa masygul mengunyah dzikir, niscaya para malaikat pun akan menyalami kalian di atas tempat pembaringan dan di jalan-jalan kalian. Namun wahai Hanzhalah, ada kalanya begini dan ada kalanya begitu.” Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali (HR. Muslim)

Simaklah Kisah-Kisah Kematian, Agar Dapat Menyentuh Hatimu

Posted by Sultan Abdurrahman On 04.45

 
Simaklah Kisah Kisah Kematian, Agar Dapat Menyentuh Hati-Mu
Syaikh Ali Ath-Thantawi dalam sebuah siaran radio dan Tv-nya mengambarkan bahwa di Syam ada seorang laki-laki yang memiliki sebuah mobil truck Lorie. Ketika mobil itu dijalankan, tanpa diketahui diatas badan mobil itu ada orang. Mobil itu mengangkut peti yang sudah siap untuk menguburkan mayat. Sedangkan di dalam peti itu terdapat kain yang bisa digunakan sewaktu-waktu dibutuhkan. Tiba-tiba hujan turun dan air mengalir deras. 

Memburu Hidayah “Bedah Novel Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) + Rujak Party”

Posted by Sultan Abdurrahman On 09.23





Alhamdulillah pada Minggu, 12 Oktober 2014 pukul 10.00-12.00 WIB Annisa LDK Ar-Rahman mempersembahkan agenda menarik yang kami cover dengan tema ‘Memburu Hidayah’. Agenda kali ini berbeda dengan agenda-agenda yang telah kami laksanakan sebelumnya. Mengapa berbeda? Karena agenda kali ini kami kemas dengan sesuatu yang menarik yaitu dengan membedah sebuah novel karya Mba Helvy Tiana Rosa yang berjudul Ketika Mas Gagah Pergi yang diakronimkan menjadi KMGP. Yah, KMGP bukan AADC atau KCB loh :D. Ohya tak hanya itu kami juga mengadakan sholat zuhur berjamaah dan setelah itu dilanjutkan dengan rujak party di akhir acara.

Ibu (Puisi Gado2)

Posted by Sultan Abdurrahman On 09.55



Ibu
 Karya : Rudi Rendra, Johari, Humairah, Azlan, Rada, Evi, Ana, Nia, Elsa, Eko Rosadi
(puisi gado2 ini adalah hasil perdana dari pelatihan menulis ADK, LDK Ar-Rahman), cekidot:


Ibu….
Tiga huruf penuh kasih
Tiga kali dituturkan Nabi
Ibuku surga abadi



Ibu…
Begitu tulus hatimu menyayangiku
Begitu besar pengorbananmu
Kau menjaga ku sejak kecil hingga sekarang
Betapa besar kasih sayangmu ibu


Ibu…
Kau adalah orang yang terbaik untukku
Perjuanganmu begitu besar
Kau telah merawatku
Ibu besar perjuangannya
 
Sejak aku dalam kandunganmu ibu


Ibu….
Engkau adalah sesosok wanita yang sangat luar biasa
Engkau yang selalu merawatku
Sejak dalam rahimmu hinnga dewasa

Ibu sosok wanita yang luar biasa



(Lagi-Lagi) Tentang Interaksi Lawan Jenis Dunia Nyata dan Maya

Posted by Sultan Abdurrahman On 16.36




Bagaimana Berinteraksi Dengan Lawan Jenis Di Dunia Nyata Maupun Maya
Oleh: dr. Raehanul Bahraen

“Ustadz bagaimana cara kita menghadapi para akhwat di kampus ustadz, kalo praktikum ama kuliah kadang ketemu, kalau diskusi tutorial apalagi? Kita ga lihat mukanya ustadz? Atau ngomong sambil lihat bawah terus? Atau nengok ke atas terus? Atau bicaranya posisi bersampingan?"
“Ustadz di kampus banyak cewek-cewek  gaul dan penampilannya agak menggoda, awalnya sih ga tertarik karena yang kayak gitu ga cocok jadi istri, mana mau saya dapet istri cantiknya dinikmati orang banyak, tapi lama-lama lihat dia kok kayaknya orangnya enak diajak ngobrol ya, kadang agak keibuan juga? Kayaknya kalo jadi istri bisa dibina deh, gimana ya ustadz, cara menghadapinya?

FATWA Salafi: Pemilu 2014

Posted by Sultan Abdurrahman On 17.01





MEMILIH SIAPA di PEMILU 2014?
(Lampiran Fatwa Terbaru Asy-Syaikh DR Sa'ad Asy-Syitsri tentang bolehnya mencoblos di Pemilu 2014 Indonesia)

Ust. Firanda Andirja

Dari diskusi dengan beberapa kawan mahasiswa pasca sarjana di Madinah, dan beristikhoroh kepada Allah, berikut ini saya sampaikan beberapa buah pemikiran seputar pemilu, yang saya harapkan bisa menjadi pertimbangan dalam menyikapi pileg yang sudah di depan mata :

PEMILU 2014 (Pilih Siapa?)

Berdasarkan fatwa para ulama besar yang memiliki pandangan yang tajam, fikih yang tinggi, serta ketakwaan kepada Allah (seperti Syaikh Bin Baz, Syaikh Al-'Utsaimin, dan Syaikh Al-Albani rahimahumullah) demikian juga fatwa Ulama Besar Madinah Syaikh Abdul Muhsin Al-'Abbad hafizohullah, dan juga beberapa ulama lainnya yang sempat kami minta nasehat dari mereka, maka kami mengikuti nasehat para ulama tersebut untuk menganjurkan kaum muslimin untuk ikut mencoblos dalam pemilu

-sebagai pengamalan dari kaidah fikih (ارْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْنِ) "Menempuh mudhorot yang teringan",
terlebih lagi mengingat kondisi tanah air yang cukup mengkhawatirkan.

Setelah itu kami bermusyawarah dan mengambil keputusan untuk menganjurkan kaum muslimin melakukan hal berikut :

Pertama : Jika mengenal caleg yang terbaik dan cenderung kepada sunnah dan membela kepentingan islam maka pilihlah caleg tersebut.

Kedua: Berilah peringatan terhadap caleg nashrani, syiah maupun liberal walaupun dari partai islam.

Ketiga: Jika tidak kenal caleg, maka pilihlah Partai PKS,

Walaupun Kami tetap menyatakan haramnya demokrasi, karena bagaimanapun PKS –dengan segala kekurangannya- masih merupakan partai yang secara umum masih diharapkan bisa memberi kontribusi kepada Islam dan Kaum Muslimin. Namun tetaplah berhati-hati terhadap caleg syiah dan non muslim walaupun dari PKS.

SERUAN kami kepada PKS agar terus membenahi diri, dan mencari keridhoan Allah, dan tidak mencalonkan non muslim, syiah maupun liberal.

Sesungguh kemenangan bukanlah pada jumlah yang banyak akan tetapi pada meraih keridoan Allah dengan  menjalankan syari'atNya dan menjauhi sebisa mungkin larangan-Nya.

Akhirnya kami mengharapkan kaum muslimin menyatukan suara mereka demi Islam, dan terus berdoa dengan tulus dan membenahi ibadah masing-masing, karena penolong hanyalah Allah semata.

Semoga menjadi kemaslahatan bagi kaum muslimin.

Allahul musta'an

Berikut ini kami sampaikan juga fatwa As-Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri yang merupakan jawaban atas pertanyaan salah seorang saudara kami kemarin sore (7 April 2014), semoga menjadi bahan renungan. Wallahul Musta'aan

PERTANYAAN:

هل يجوز المشاركة في الانتخابات في بلادنا أندونيسيا؟
علما أن الساحة السياسية تحتوي على فرق وأفكار كثيرة..ولكن يخشى أن خطر تقدم الشيعة كبير جدا. وكذلك العلمانيون.
فهل يجوز التصويت للجماعة/للشخص الأقرب للسنة؟
ولكن يجب التنبيه أنه حتى إذا فازت هذه الجماعة (أو إذا أدخل هذا الشخص البرلمان) فسيكون من الصعب عليهم تطبيق الشريعة إلا أن ينقص بعض المضرات أو المفاسد و بل يفتن الكثير في دينهم و دنياهم...فماهي نصيحتكم؟؟ وجزاكم الله خيرا

Kepada Syaikh yang mulia semoga Allah menjaga Anda..
Apakah boleh berpartisipasi didalam pemilu di negeri kami Indonesia?
Perlu diketahui bahwasannya kancah politik terbagi kedalam banyak kelompok dan pemikiran..akan tetapi ditakutkan bahwasannya bahaya akan kemajuan (tersebarnya) syiah sangat besar..demikian juga dengan kaum sekuler.
Maka apakah boleh memberikan suara kepada kelompok Jama’ah atau orang yang paling dekat kepada sunah?
Akan tetapi yang perlu diketahui juga bahwasannya apabila Jama’ah tersebut menang (ataupun orang tersebut masuk kedalam parlemen) maka akan sulit bagi mereka menerapkan syari’ah kecuali hanya mengurangi sebagian dari keburukan-keburukan dan kerusakan-kerusakan dan bahkan kebanyakan dari mereka terfitnah atas agama mereka dan dunianya..
Maka bagaiman nasihat dari Anda??  Semoga Allah membalas segala kebaikan Anda..

JAWABAN:
العمل السياسي على نوعين
 النوع الأول من يدخل من أجل أن يرشح للبرلمان أو لغيره, مثل هذا لا يصح لطلبة العلم, ليس من شأنهم مثل هذا و ذلك لأن المهمة التي يؤدونها لتعليم الخلقة وإعادتهم إلى الله جل وعلى أعظم من مهمة الإنشغال بمثل هذه الأمور. و لأن هذه الأمور تجلب أصحابها إلى أفعال و أخلاق لا تتناسب مع شأن طالب العلم, المهاترات الكلامية.
وطالب العلم بمثابة المربي و الأب للجميع و لأن هذا النظام الديمقراطي فيه مخالفات شرعية كثيرة في أساسه و بنيته تجلب خطى أهل العلم بهذا قد يتنافى مع المقصود الشرعي.
أما بالنسبة للتصويت, فنقول هذا من ارتكاب أهون الضررين لدفع أعلاهما, فلا ندخل في المهاترات مع هؤلاء المتسابقين إلى هذه المقاعد نضيع المهمة التي قدمنا من أجلها, حينئذ لابأس من المشاركة في التصويت بشرط أن يغلب على ظن الإنسان أن من اختاره الأصلح الذي يعين الخلق إلى الله جل و علا

هذا و الله أعلم

Kegiatan politik tersebut dibagi menjadi dua jenis:

Jenis pertama, siapa yang masuk (dalam perpolitikan) dengan maksud untuk mencalonkan diri kedalam parlemen atau selainnya, semisal ini tidaklah dibenarkan bagi penuntut ilmu karena hal ini bukanlah bagian dari urusannya.
Hal itu dikarenakan pentingnya menunaikan pengajaran kepada manusia dan kembalinya mereka kepada Allah Jalla wa ála lebih agung daripada pentingnya menyibukkan diri terhadap perkara tersebut (politik).
Dan juga dikarenakan perkara (politik) tersebut menjerumuskan pelakunya kedalam perbuatan-perbuatan dan akhlak-akhlak yang tidak sesuai dengan jati diri penuntut ilmu yang mengacaukan ucapan-ucapannya.
Dan penuntut ilmu adalah sebagai pendidik dan pengayom dari semuanya.
Dan sesungguhnya sistem demokrasi ini didalamnya terdapat banyak hal-hal yang menyelisihi syariat baik pada pondasinya maupun bangunannya yang menyelisihi jalannya ulama sehingga terkadang tidak sesuai dengan maksud syariat.

Adapun (jenis kedua) memberikan suara, maka kita katakan bagian dari mengambil yang paling ringan mudhorotnya untuk menolak yang paling besar mudhorotnya. Maka janganlah kita masuk kedalam kerusakan-kerusakan bersama mereka yang berlomba-lomba kepada kursi (parlemen) tersebut, sebagaimana telah kita jelaskan sebelumnya.

Adapun berpartisiapsi didalam memberikan suara maka tidaklah mengapa dengan syarat kuatnya prasangka seseorang yang dipilihnya adalah paling memberikan maslahat yang dapat menolong manusia (untuk kembali) kepada Allah Jalla wa ála..

Wallahu a'lam..

Lika-liku Laki-laki Tak Laku-laku (Bagian 2)

Posted by Sultan Abdurrahman On 18.57

 
“Iya, ada apa?”
“Mbak, kalau mau lihat skripsi di mana ya?”
“Owh, ruangan skripsi? Dari pintu masuk Mas ke kiri, terus belok kanan, lurus aja, kemudian belok kiri lagi. Nah, di situ ruangan skripsi.” Busyet! Ini benar-benar labirin. “Bukan mahasiswa sini ya, Mas?” 
“Eh, iya... eh, bukan,” Rio gelagapan. Ketahuan ia belum pernah ke perpustakaan pusat. “Makasih, Mbak.” Hancur dah reputasinya di depan cewek manis tadi. Padahal dalam hatinya tadi pengen kenalan, siapa tahu beruntung tuh cewek jatuh hati sama dia. Eh, mimpinya Rio di siang bolong, diaminin aja. Kasihan enam tahun di kampus, gak ada cewek yang nyantol. Bukan karena gak ganteng, sih, tapi emang kurang cakep! 
Setelah keliling-keliling, akhirnya ia menemukan ruangan skripsi tersembunyi si sudut paling kiri perpustakaan. Lokasi yang membuatnya ngedumel dalam hati. Setengah jam di ruangan itu, dengan mudah rasa bosan menyergapnya. Berkali-kali mulutnya menganga. Bahkan, ia sempat tertidur di antara rak-rak itu dan terbangun karena tepat di depannya sebuah skripsi jatuh.
Rio kembali, ia menyudahi petualangannya di perpustakaan pusat. Ia menyimpulkan bahwa pekerjaan mencari referensi itu membosankan. Titik. Gak pake koma-koma lagi.
***
Bimbingan kali ini, Bu Yati dengan baik hatinya membelikan empek-empek dari kantin kampus. Eh... tumben-tumbenan, pikir Rio. Yah, mudah-mudahan pertanda baiklah buat Rio.
“Biar kamu semangat bimbingan. Mungkin ibu gak ngasih makan selama ini jadi kamu sedikit lamban.” Ujar Bu yati. Rio mesem-mesem aja.
“Ah, ibu tau aja...”
“Nah, kan, nyambarnya cepat  kalo bimbingan dikasih makan!”
“Ibu juga baru ngasih tau sekarang, kalau dari dulu pasti tiap bimbingan saya sms ibu dulu mau pilih makan apa?”
“Alhamdulillah, artinya ibu gak perlu ngeluarin banyak biaya untuk membimbing kamu lagi.”
“Loh, kok?”
“Iya, ini bab terakhir, kan? Kalau ibu acc, selesai skripsimu, tinggal sidang dan bla bla bla…” Dubraakk.. Ibu ini masih perhitungan aja, gerutu Rio dalam hati.
Pempek lenjer, kapal selam, adaan, dan semua jenis pempek terhidang di meja. Sesekali Rio melirik pempek-pempek yang menggoda tangannya untuk meraihnya. Tapi, seolah Bu Yati membaca pikirannya, setiap kali matanya melirik pempek-pempek itu, Bu Yati akan berceloteh, “Fokus, fokus...”
“Oke, final. Kamu sudah boleh sidang. Bab terakhir kamu saya acc.”
“Yeaahhh…!“ Rio kegirangan, tanpa sadar tangannya menyenggol cuka pempek dan tumpah ruah ke kertas-kertas di atas meja. Sepiring pempek pun tak ayal jadi korban ketika tangannya hendak menyelamatkan sang cuka.
Praaakkkk…
Pempek berserakan di lantai. Cuka bergenangan di meja. Kertas-kertas entah berkas apa berubah warna menjadi kecoklatan. Sedetik kemudian Rio dan Bu Yati terdiam.
“Rioooooooo……!!!” Bu Yati akhirnya histeris dan tanpa sadar tangannya menjewer telinga Rio.
“Maaf, maaf, Bbu.. gak sengaja, Bu,” Rio meringis.
Rio menelan ludah, hilang sudah harapannya makan pempek hari ini. Ia mesti rela membersihkan bekas cuka dan pempek yang berserakan di lantai.
“Bang Rio sekarang udah kerja di sini, ya?” Seorang mahasiswi dengan polosnya bertanya ketika melihat Rio membersihkan lantai ruang dosen.
“Sembarangan! Lo kira gue OB, heh??? Gue lempar sama pempek ini, mau?”
“Eh, bang Rio kok mendadak galak, mau dibantuin, Bang?”
“Wah, kalo itu boleh dech, nih gantiin abang beresin lantai.”
“Gak, maksudnya bantuin doa, Bang.”
“Pergi gak loooooo!”
“Haha.. selamat bekerja, bang Rio...!”
Hari ini memang melelahkan. Setelah semalaman begadang menyelesaikan skripsi, paginya bimbingan dan ditutup bersih-bersih ruang dosen plus bonus disemprot Bu Yati karena berkas-berkasnya turut terkena tumpahan cuka pempek.
***
Gue cuma pengen wisuda dengan bahagia...
Tulis Rio di status Facebook-nya. Dalam hitungan menit saja komentar demi komentar muncul.
Ema Lisnawati Anak Bunda Emang: sekarang gak bahagia, Bang? Kan udah sidang?
Giovanni The Rummi: Emang lu bisa bahagia juga, Yo?
Aristiawan: Udah kagak usah pikirin yang gak ngebahagiain, enjoy aje, boy!
Winda Cuakep: Tumben bang ngegalau? :D
Es Cendol Tanto: Itu derita Lu Yo, menderita mulu! Xixixi.
Beragam komentar muncul dan Rio enggan menanggapi. Dia pun merasa geli sendiri dengan statusnya. Ini kali pertama ia bikin status yang sedikit galau. Tapi, pada akhirnya ia menanggapi obrolan panjang teman-teman Facebook-nya dengan komentar singkat: Gue lagi nyari pendamping wisuda plus pendamping hidup, boy, capek ngejomblo melulu. :D
***
Sore itu, seminggu menjelang wisuda. Rio duduk di gazebo depan mushala, melepas lelah setelah mondar-mandir mengurus semua urusan untuk wisuda.
“Bang Rioooo... selamat yaaa! Traktirannya kapan?” Sarah menghampirinya dengan sumringah dan senyum lebar dua centi kanan, dua centi kiri.
“Makan mulu, lu! Gemuk dikit ngeluh terus nangis-nangis pengen diet.”
“Hahaha... gak gitu juga kali, Bang.. Btw ngapain abang di sini?”
“Gak ngapa-ngapain, istirahat aja abis muter-muter.”
“Muter-muter hati Sarah ya, Bang?”
“Gak. Muter-muter gerobak bakso! Ganggu aja nih anak. Pergi sana!”
“Eh, abang lagi merhatiin ukhti-ukhti yang di mushala itu ya? Cieee, bang Rio, cieee...”
“Kepo lu!”
“Ngaku aja, Bang. Cieee…”
“Pregi, lu, gerah gue!”
“Bang, kalo suka sama ukhti-ukhti, abang mesti jadi akhi-akhi dulu. Gimana si ukhti mau sama abang, abang aja kayak gini? Lihat tuh penampilan abang, acak-acakan gitu. Jangan-jangan gak mandi dua hari lagi?”
“Sembaranga,n lu. Gini-gini gue mandi tiga kali sehari!”
“Bohong! Dosa lho, Bang! Nambah si ukhti gak mau.”
“Udahan, pergi sana, lu.”
“Hahaha... Bang, laki-laki yang baik itu untuk wanita yang baik, begitu pula sebaliknya.” Sarah beranjak dan meninggalkan Rio tercenung di gazebo. Mungkin ada benarnya perkataan Sarah, bisa jadi karena itu juga ia tak laku-laku padahal ia selalu bermimpi mendapatkan pendamping hidup seorang muslimah yang baik. Atau karena jauh dari Allah juga skripsinya sekian semester tak laku-laku alias tak di-acc-acc oleh dosen pembimbingnya, pikir Rio.
***
Rio mengambil sajadah di lemarinya. Entah berapa lama sajadah ini tak ia pakai. Sehelai sarung dan kopiah pemberian ibunya pun telah lama sekali tak ia gunakan. Senja ini, jelang Maghrib, ia mengguyuri tubuhnya dengan air dan berwudhu.
Azan Maghrib berkumandang dan Rio melangkahkan kaki menuju masjid yang tak begitu jauh dari kostannya. Dengan senyum sumringah, ia masuk ke masjid tanpa menghiraukan teriakan seorang laki-laki di belakangnya. Ia masuk pintu masjid dan langkahnya terhenti.“Kok isinya cewek semua?” 
“Maaf, Mas, pintu cowoknya di sana. Mari...” Dari belakang suara seorang laki-laki mengejutkannya. Ia melangkah, masih ia dengar cekikikan dari belakang. Mungkin Allah menghukumku atas kelalaianku selama ini, bisa jadi ini belum seberapa, pikir Rio.
Hari ini sujud pertamanya setelah sekian sujud ia tinggalkan. Sebuah janji ia ikrarkan kepada dirinya sendiri, ia akan menjadi muslim yang lebih taat lagi.

Inderalaya, 25 November 2013

Skripsi Oh Skripsi (Part 2)

Posted by Sultan Abdurrahman On 18.54

 
Kata seorang dosen, “Kalau kalian sedang mencari jalan keluar dari sebuah persoalan, maka berjalanlah! Berjalan saja ke mana pun kalian mau! Jangan tidur terus di kost!” Aku ingat waktu itu beliau lagi cerita pas dapat juara satu nulis resensi buku, secara kebetulan, tanpa rekayasa dan tanpa dibuat-buat. Ciyus deh. Kata beliau, pas lagi jalan-jalan nggak sengaja nemu pengumuman lomba nulis, beliau ikut deh dan dapat hadiah 3 juta. Waw! Padahal waktu itu beliau cuma lagi butuh uang 2,5 juta. Inspirasi yang mantap!
Nggak ada salahnya nyoba kan? Asyyiiiiiiik. It's time to jalan-jalan!
Dan.. pas banget sampai di depan gedung balai desa yang nggak sengaja aku lewati, ada tulisan:
SELAMAT DATANG PESERTA WORKSHOP KEPENULISAN! TERBUKA UNTUK UMUM!
“Waaaaw!” langsung berbinar-binar mataku. Barangkali aja ada materi semacam tips dan trik mudah menulis skripsi, kan? Tanpa siaran ulang atau siaran tunda, aku (siaran) langsung daftar ke panitia.
“Mba, masih boleh daftar, kan?”
“Oh, boleh, Mba.. boleh banget. Silakan! Tapi karena daftarnya on the spot jadi bayarnya 150 ribu, ya, Mba!”
“Hah?! 150? Mahal banget? 150 kok di balai desa? Harusnya di hotel bintang tujuh, Mba!” ucapku sewot.
“Ya itu kalo mbaknya mau. Kalo nggak, ya udah,” tahu banget dia kalau aku lagi butuh. Terpaksa deh bayar.
Setelah nunggu satu jam, dua jam, tiga jam…
Kok materinya: bagaimana menulis dongeng, cerpen, puisi, pantun, dan bagaimana menang lomba? Aaarrghhhh! Nggak ada sedikit pun materi yang bahas bagaimana menulis karya ilmiah, apalagi skripsi? Suntuk. Pas keluar, nggak sengaja nglirik banner yang masih terpampang di dinding tadi.
Melotot mataku!
“Astghfirullah… Pantesan aja materinya dongeng! Orang ini buat nulis fiksi!” pinter banget panitianya... tulisan fiksi-nya dikecilin.
Rasanya pengen ngobrak-ngabrik ini balai desa.
“Grrrrrrr! Skripsiiii! Balikin uang bensin aku bulan iniiiiiiii!”
Rasanya mau pecah kapala ini.
***
Ketika menghadap dosen PA (Pembimbing Akademik), yang begitu aku harapkan petunjuk dan petuahnya, supaya aku bisa gampang bikin skripsi, lulus dengan cepat, tepat, akurat dan nggak pake telat, ehhh bukannya dapat motivasi apa masukan ide gitu, ini malah dapat kata-kata mutiara yang indaaaaaah banget.
“Buat apa lulus cepat-cepat? Kalau bisa lulus semester empat belas, kenapa lulus semester delapan?”
Huaaaaaahhh! Rasanya pengen teriak sekenceng-kencengnya,
“Paaaak! Saya boleh nonjok Bapak, nggaaaaaakkkk?!”
***
Waktu curhat sama teman ngaji,
“Rani, kamu kan biasanya doanya manjur banget, tuh! Doain aku biar cepat beres skripsi dan lulus tepat waktu, ya?!” terus dia jawab dengan kalimat yang begitu mempesona:
“Nggak mau!” *Jebrettttttt.
“Kalau aku doain kamu biar cepat lulus, nanti malaikat juga bakal doain aku cepat lulus! Aku kan pengin diwisuda suami dulu sebelum diwisuda kampus!”
*Plakkkkk! Aku kayak ditampar pakai wajan! Mana ngomongnya pakai tanda seru semua. Hiks, aku cuma bisa bengong.
***
Saat sudah siap buka lepi (nama kesayangan laptopku), tiba-tiba terdengar suara Bu Kost yang merdu menusuk kalbu,
“Mba, temenin anak-anak ya, Ibu sama Bapak mau kondangan dulu,” sedangkan posisi lepi harus nyolok setruman (stop kontak), nggak bisa dibawa ke mana-mana, dan nggak bisa fokus sambil jaga anak-anak karena mereka tipe anak-anak yang dahsyat seperti,
“Adiiiit!” sampe serak suaraku, “kalau mau main panjat-panjatan, naiknya kursi kek, meja kek, lemari kek! Jangan di loteng gituuuuu!” dia tipe kinestetis, yang nggak ketulungan.
Serta,
Jep..ajep-ajep! Ajep-ajep!
“Ditaaaaa!” suaraku yang udah kayak petir masih aja nggak kedengeran di telinganya, “kecilin tape-nya, dooooooong!!!” dia tipe auditori, yang nggak ketulungan juga. Kalo nyetel tape, full volumenya. Malah kalo bisa di atasnya full!
Skripsi..oh..skripsiii! Gimana aku bisa konsennnn?!
***
Pas udah bisa buka lepi, “Mba, tolong temenin anak-anak, ya.. Ibu mau belanja, dulu,” Ya Tuhan... ibu kalo belanja bisa dari terbit fajar sampai terbenam matahari.Ngeeeekkkkkk!
Waktu pas ngetik… Pet! Mati lampu.
Yeesss!!! Bisa kena gangguan jiwa aku kalo begini terus.
Haaaaaahhh! Desember udah mau abis. Padahal teman-teman udah pada di terima proposal judulnya. Akuuuuu? Ngetik sehuruf aja belum!
Langsung istighfar 100 kali.
***
Diam-diam aku merenungi diri.
“Tuhan.. ampunilah hamba-Mu yang dzalim ini. Aku suka menunda-nunda sholat. Kadang bolong-bolong, eh, bolooooong banget target One day One juz-nya sama ma’tsurat (doa pagi dan petang)-nya juga, ya Allah.. Terus sering telat dateng ngajinya.. kadang bolos juga. Terus nggak nambah hafalan ayatnya, malah minus, ya Allah.”
“Ya Allah.. Aku sering tidur pagi-pagi, banyak bikin alasan, nggak manfaatin waktu luang, nggak suka baca juga. Hiks!” *Nah, lho! Ketahuan.
“Ngga dhuha, nggak tahajud juga, apalagi solat hajat?” *Lengkap banget.
“Ampuni aku, ya Allah!”
Istighfar 1000 kali.
Pelan-pelan aku mulai bebenah. Aku inget kata Pak Hamid, ustadz di belakang kosan pas kulsub (kuliah subuh) tadi,
“Allah akan menolong urusan-urusan kita melalui malaikat-malaikat-Nya jika kita senantiasa berdzikir kepada-Nya.” Biarlah skripsiku memang belum selesai, tapi hatiku lebih tenang sekarang.
Aku nggak doain apa yang kamu mau, tapi aku berdoa supaya Allah ngasih yang terbaik buat kamu. Semangat buat skripsinya, Sobat!
Ah, indah sekali. Itu sms dari Rani barusan. Makasih, ya Allah..
Selesai.
Purwokerto, 27 Desember 2013