“afwan akhi, kami
masih mengurusi masalah internal”
“maaf , kami belum
bisa menjalani pendampingan ke LDK lain, karena kami masih harus persiapan
penyambutan mahasiswa”
“LDK kami masih
banyak masalah, belum bisa memikirkan
kampus lain, kami sedang penguatan internal”
-------------------
Atau ada kisah
seperti ini
-------------------
“di sebuah kota di
pulau jawa terdapat sebuah LDK dari kampus negeri yang mapan, mengadakan
sekolah mentor untuk persiapan mentoring tahun depan. Kegiatan ini diikuti oleh
120 peserta yang sudah terseleksi dengan baik..... akan tetapi, 500 meter dari kampus tersebut
ada sebuah LDK yang dimana pengurus inti nya tidak mendapatkan pembinaan (
mentoring ), karena tidak ada seorang pun yang mau membina disana”
“di sebuah LDK
lain, yang juga terkemuka, dan juga berasal dari kampus sangat besar , LDK ini
seringkali mengadakan kegiatan kelas lokal, bahkan nasional, dan tergadang
beberapa agenda kaliber internasional. Sudah sangat terkenal LDK ini
menjalankan agenda syiar yang sangat menakjubkan. Ta’lim dan kajian jurusan
sudah seperti agenda rutin, sehingga kader bingung mau ikut yang mana, karena
setiap jurusan mengadakannya..... akan tetapi
ternyata di kampus-kampus sekitar ( dan berada dalam satu
wilayah-sebutlah kabupaten-), LDK nya bahkan untuk mengadakan sebuah kajian
rutin sangat sulit, dan sesekali mengadakan kajian, sudah ibarat sebuah
kesuksesan yang sangat baik”
“di sebuah LDK
lain, di Indonesia, LDK ini terkenal dengan kekuatan LDK yang mengakar,
sehingga sudah ada dan kuatnya lembaga dakwah di tingkat fakultas, bahkan
jurusan. LDK ini bisa dikatakan LDK yang sangat banyak dari jumlah kader....
akan tetapi tidak jauh dari LDK tersebut, banyak kampus yang bahkan untuk
melegalkan LDK saja sulit”
----------------
Apakah ini realita
di Indonesia.... jawabannya iya... LDK yang sudah mandiri, hanya sibuk
mengurusi keadaan di kampusnya.. mentoring yang belum jalan, syiar yang belum
efektif, hutang masih banyak, kader yang melemah dan masalah klise
yangseakan-akan dibuat-buat.
Sahabat-sahabat
semua, pertanyaan saya untuk anda semua, para penghuni LDK mandiri atau mapan?
Mau sampai kapan
anda menunggu kampus anda baik ... ?
Menurut saya,
hingga hari kiamat, kampus anda tidak akan baik ...
Kenapa ?
Karena kebutuhan
dan kondisi ideal setiap LDK akan meningkat seiring perputaran waktu. Lima
tahun yang lalu bisa saja kita mengatakan, keberhasilan LDK adalah ketika LDK
ini memiliki sisitem kaderisasi terpadu. Nah, tahun ini sistem terpadu itu
sudah berjalan, tapi kita belum mengatakan LDK kita sudah baik.
Kenapa ?
Karena parameter
keberhasilannnya juga meningkat..
Saat ini anda bisa
mengatakan bahwa standar keberhasilan LDK adalah ketika setengah mahasiswa
muslim mengikuti mentoring, tahun depan anda akan mengatakan lain, lima tahun
lagi anda akan mengatakan lain.
Apakah kita harus menunggu LDK kita baik baru
kita membantu, melayani dan mem-back up
kampus lain ? sampai kapan mereka harus menunggu ?
Sahabat kader LDK
yang Allah sayangi, perlu kita pahami bahwa LDK lain yang notabenenya tetangga
kita saudara kita juga butuh bantuan. Masih banyak LDK yang tidak bisa
mengadakan kegiatan mentoring karena tidak ada mentor yang kompeten, masih
banyak LDK yang untuk membuat buletin saja sangat sulit, karena berbagai faktor
sebab, masih banyak LDK yang tidak punya dana untuk memulai usaha, masih banyak
LDK yang untuk memilih ketua saja, perlu waktu lama, karena tidak ada kader
yang tersedia, masih banyak LDK yang butuh perhatian dan bantuan anda semua ,
butuh bantuan kita semua.
Saya berbicara
kepada –khususnya- semua LDK yang berasal dari kampus-yang ngakunya-besar.
Kalau memang anda semua punya harga diri, buktikan itu dengan pelayanan, dengan
membantu percepatan di kampus sekitar. Jangan egois dengan hanya dengan memikirkan
apa yang bisa anda lakukan untuk memperbesar LDK anda.
Saya berani
berkata, untuk semua ketua LDK –yang katanya sudah mandiri- kalau hanya untuk
membuat LDK anda besar,lebih baik anda
turun jadi ketua LDK. Bersyukurlah sedikit dengan apa yang sudah Allah kasih ke
kampus dan LDK anda. Buktikan dan balas semua yang telah Allah berikan dengan
punya visi , bagaimana dengan kehadiran anda sebagai sebagai pemimpin LDK bisa
memajukan LDK lain , minimal yang berada di propinsi atau minimal sekali yang berada di kota tempat LDK anda berada.
Kalau kita lihat,
sekarang ... LDK mana yang betul-betul peduli pada LDK lain ( kecuali PUSKOMNAS
tentunya-itu juga karena tanggung jawab ) ? mana mantan-mantan koordinator
PUSKOMNAS ? mana para LDK yang sudah baik itu membagikan dan menyebarkan
“surga” nya ke kampus lain ?
Kalau bukan LDK
mandiri yang bergerak siapa lagi ? siapa lagi yang akan peduli dan mempercepat
perkembangan LDK lain ?
Ironi jika sebuah
LDK bisa web yang di andalkan untuk media syiar, akan tetapi sangat banyak LDK
yang menggunakan millist saja tidak bisa
Ironi jika sebuah
LDK bisa membuat buku panduan mentoring, sedangkan sangat banyak LDK lain yang
menggunakan konsep mentoring yang hanya copy-paste
dari internet atau dari buku
Ironi jika ada
sebuah LDK yang meng-semarak-kan prosesi pemilihan ketua LDK, sedangkan banyak
LDK yang proses pemilihan ketua LDK tampak sepi, karena kekurangan kader
Ironi jika ada
sebuah LDK yang mempunyai dana yang sangat besar di kas, bahkan punya aset yang
bisa dijadikan uang, sedangkan banyak LDK yang harus mengutang untuk mengadakan
sebuah kajian
Ironi jika ada
sebuah LDK yang sengaja memperbanyak jumlah departemen dalam struktur
organisasi karena memilki banyak kader, sedangkan banyak LDK yang sengaja
mengurangi jumlah departemen dalam struktur karena kekurangan kader
Ironi jika sebuah
LDK bisa mempunyai sebuah sekertariat yang sangat besar, sedangkan saudara
saudara kita di sulawesi masih berjuang untuk melegalkan LDK
Ironi jika kita
bisa nyaman berdakwah.sedangkan masih banyak LDK yang berdakwah dalam
kegelisahan
Ironi jika kita
mengeluh “saya Cuma satu-satunya kader dakwah di kelas” sedangkan saudara kita
di Unpati ambon tetap semangat berdakwah dengan berkata “saya satu-satu
mahasiswa muslim di kelas”
Ironi jika kita
mengeluh, sedangkan mereka menanti uluran tangan kita dengan senyuman
Kalau memang kita
satu tujuan, kalau memang kita satu visi, kalau memang kita bersaudara.. maka
buktikanlah..
FSLDK di dirikan
untuk mempercepat perkembangan LDK di Indonesia. FSLDK di dirikan bukan untuk
memperbesar kampus yang sudah besar. FSLDK di dirikan untuk membuat semua LDK
maju bersama, baik bersama, kuat bersama, dan bersinar bersama.
-------------
Tulisan ini ditulis
untuk –khususnya- semua LDK yang sudah mandiri dan semua LDK yang akan mandiri
( supaya pas jadi mandiri sadar diri ), dan sebagai pengingat bagi saya sendiri
yang juga merupakan ketua LDK mandiri.
Mohon maaf jika ada
yang tersinggung, emang tujuannya untuk
nyinggung, kalo yang gak merasa juga gak apa-apa.
----------
Ditulis oleh
ridwansyah yusuf
achmad
Kepala LDK GAMAIS
ITB
Koordinator
PUSKOMDA FSLDK Bandung Raya
Direktur Pusat
Pelatihan Manajemen Lembaga Dakwah Kampus
ridwansyahyusuf@gamais.itb.ac.id
yusuf_ahdian@yahoo.co.id
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer


0 komentar:
Posting Komentar