LDK sangat erat kaitannya dengan
lembaga kaderisasi, karena memang LDK pada mulanya didirikan untuk mengkader
para mahasiswa agar memiliki pemikiran dan kapasitas seorang muslim yang
komprehensif. Dalam perkembangannya LDK
beralih peran sebagai lembaga syiar Islam. Berbagai agenda terus dilakukan.
Terkadang alih fungsi ini berdampak “kebablasan”
di beberapa wilayah. Roda syiar berjalan, sedangkan basis pembinaan tidak
terperhatikan.
Inilah yang menjadi sebab mengapa
beberapa LDK mengalami krisis kepemimpinan pada tahun-tahun tertentu. Sejatinya
LDK harus bisa memastikan sistem kaderisasi bisa berjalan dengan baik dalam
keadaan apapun. Karena kaderisasi yang baik akan berperan besar sebagai dinamo
dakwah kita.
Mengapa saya berbicara sistem, karena
dengan sistem lah, sebuah LDK bisa membentuk kader kader yang solid dan militan
setiap saat. LDK tidak boleh berorientasi pribadi atau ketokohan. LDK tidak
boleh punya tokoh sentral yang di ibaratkan “pahlawan” bagi LDK tersebut. LDK
harus mampu membentuk banya kader hebat di setiap waktu.
Bagaimana LDK melakukan sistem
kaderisasi ?. Pada dasarnya ada 4 tahap kaderisasi yakni, tahapan perkenalan,
pembentukan, pengorganisasian, dan tahapan eksekusi. Empat tahapan ini adalah
sebuah siklus yang membentuk seorang objek dakwah agar di masa yang akan datang
siap menjadi subjek dakwah
Perkenalan (
ta’aruf )
Pandangan
pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Memberikan
kesan yang baik terhadap LDK adalah tahap awal yang dijalankan. Kesan yang baik
ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti dengan pelayanan kepada
mahasiswa, atau dengan agenda syiar kampus. Pada tahap perkenalan ini , LDK
mempunyai peran dalam untuk membuat mahasiswa menjadi mengetahui apa-apa yang
belum diketahui terkait islam, atau dengan kata lain dari bodoh menjadi pintar.
Dari yang belum mengetahui menjadi mengetahui. Membuat mahasiswa berkata “oh”.
Pada hal-hal yang didapat. Pendekatan yang dilakukan memang seperti agenda
syiar, karena ta’lim dan tabligh bisa menjadi media untuk memperkenalkan LDK.
Tahapan perkenalan sangat berpengaruh
terhadap pemahaman dan kontribusi beliau ketika sudah masuk LDK, dalam tahapan
ini kita perlu memberikan gambaran umum yang jelas sehingga calon kader
memiliki orientasi yang jelas dalam mengikuti pembinaan Islam. Tidak ada
parameter yang berlebihan dalam tahapan ini. Mahasiswa yang dulu belum
mengetahui bahwa sholat itu wajib, menjadi tahu bahwa sholat itu wajib,
mahasiswa yang belum tahu bahwa puasa itu wajib menjadi tahu. Belum perlu sampe
tahapan melaksanakan. Dengan harapan, setelah mahasiswa mengetahui urgensi dari
beberapa hal tentang Islam , membuat mereka tertarik untuk mendalami dengan
mengikuti permentoringan.
Poin penting dalam tahapan ini adalah
tindak lanjut dari agenda syiar yang dilakukan. Peran data sangat penting
disini, dimana LDK bisa mempunyai absensi peserta ta’lim atau agenda syiar, dan
menindaklanjuti dengan agenda pembinaan rutin ( mentoring ) yang diadakan oleh
LDK. Bentuk lain dari penindaklanjutan adalah dengan membuat stand pendaftaran
kegiatan mentoring di setiap event dakwah, dan cara yang baik lainnya, adalah
dengan menjadikan dakwah fardiyah sebagai kebiasaan kader dimana. Sehingga
setiap kader kita bisa berperan aktif dalam mengajak mahasiswa muslim untuk
mengikuti mentoring ( pembinaan rutin ). Pendekatan dengan diskusi
langsung juga bisa dilakukan untuk orang
yang sudah berpengaruh atau sudah punya landasan pemikiran yang kuat.
Pembentukan (
takwin )
Membentuk seorang kader yang seimbang
dari segi kemampuan dirinya. Membentuk kader ini perlu waktu yang cukup lama
dan berkelanjutan. Membuat mekanisme dan sistem pembentukan yang jelas,
bertahap dan terpadu bagi kader akan menghasilkan kader yang kompeten dan
produktif. Oleh karena itu pelaku kaderisasi atau dalam hal ini tim kaderisasi
LDK diharapkan bisa memberikan asupan ilmu yang luas dan tidak terbatas, serta
seimbang antara ilmu dan amal. Berikut akan dijelaskan berbagai dimensi yang
perlu dipahami dan dibina terhadap seorang kader.
- Diniyah. Diniyah disini dimaksudkan pemahaman ajaran Islam dasar, seperti penjelasan tentang aqidah yang bersih dan lurus, pengajaran bagaimana ibadah yang benar,diutamakan ibadah wajib dijalankan dengan konsisten lalu meningkat ke membiasakan ibadah sunnah. Selanjutnya terkait dasar-dasar fiqih Islam dan berbagai hukum kontemporer yang ada. Penguatan dari sisi akhlak yang baik perlu di biasakan pada dimensi ini. Pembentukan kader yang berkepribadian Islam komprehensif diharapkan bisa di penuhi di dimensi ini.
- Qur’aniyah. Memberikan pengajaran akan dasar-dasar Al Qur’an, disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan kader yang ada. Tahapan pengajaran ini bisa dimulai dari tahap pra-tahsin,tahsin, dan tahfidz. Bila keadaan memungkinkan Tafsir qur’an juga bisa dilaksanakan. Besar harapan kader LDK sangat dekat dengan Qur’an, karena memang semua yang disampaikan dalam berdakwah akan bersumber pada Al Qur’an. Kedekatan kader pada Qur’an pula yang akan membuat dakwah ini berkah dan di rahmati Allah. Kader diharapkan bisa mengaji atau membaca Qur’an dengan tajwid yang benar. Jika bacaan Qur’an sudah baik, kader diharapkan bisa memulai menghafal Al Qur’an.
- Manajemen Organisasi. LDK adalah lembaga dinamis yang memerlukan kader yang bisa bergerak produktif dan terus menerus. Kader LDK haruslah kader yang baik dalam memanajemen diri dan organisasi. Penanaman dasar-dasar organisasi sejak dini dengan harapann kader tidak bingung ketika sedang menjalankan amal dakwah. Isi dari dimensi ini seperti dasar-dasar kaderisasi, manajemen waktu, manajemen konflik, manajemen rapat, syiar efektif, fung rising, pengelolaan organisasi dan lainnya. Isi dari dimensi diharapkan bisa menjadi bekal untuk diri sendiri dan organisasi dakwah.
- Softskill. Kader LDK dituntut memiliki keahlian khusus yang bisa menunjang pergerakan dakwah LDK dan di masa yang akan datang diharapkan bisa juga berguna untuk dirinya. Contoh penerapan pembentukan softskill untuk kader, seperti pelatihan membawa mobil dan motor, cara desain dengan corel draw atau adobe photoshop,publik speaking, training manajemen aksi, memasak, memasang spanduk dan umbul-umbul, pelatihan multimedia seperti web dan blog, olahraga dan bela diri, bahasa Inggris dan bahasa arab dan kemampuan pendukung lainnya yang sekiranya dibutuhkan untuk kader.
- Kepemimpinan. Manusia diciptakan Allah sebagai pemimpin, begitupula kader LDK yang nantinya akan memimpin pos-pos dakwah di manapun. Seorang kader dakwah harus siap memimpin jika kondisi menghendaki beliau sebagai pemimpin. Jiwa seorang pemimpin ini tidak bisa dibangun secara instan. Seorang pemimpin perlu kuat dari segi visi dan komprehensif dalam melihat sesuatu, pemimpin juga butuh kekuatan komunikasi dan kharisma yang kuat, pemimpin butuh memiliki jiwa empati dan baik dalam berkerja sama, pemimpin juga harus bijak dalam mengambil kebijakan. LDK harus bisa mencetak banyak pemimpin, karena kader LDK tidak hanya akan memimpin di LDK saja, akan tetapi kita juga perlu menyiapkan kader yang akan pemimpin di wilayah dakwah lain.
- Wawasan. Seorang yang berilmu lebih baik ketimbang yang tidak berilmu. Ilmu dalam hal ini tidak dibatasi dalam hal ilmu agama saja. Kader LDK perlu memahami dasar-dasar ilmu politik, sosial, hukum, budaya dan ekonomi. Kekuatan dan luasnya wawasan yang dimiliki oleh kader dakwah akan memudahkan proses keberterimaan seorang kader di masyarakat dan memudahkan amal dakwah yang dilakukan oleh kader. Kekuatan wawasan ini pula yang akan membuat kader lebih bijak dan tepat dalam mengambil keputusan.
Dimensi-dimensi pembinaan ini perlu
diberikan secara jelas, bertahap dan terpadu. Dengan memebrikan banyak wawasan
bagi kader LDK, sama dengan membangun aset dalam bisnis. Aset terbesar LDK
adalah kader yang produktif. Flow dari
rangkaian pembinaan ini harus bisa disusun dengan tepat agar memberikan sebuah
formulasi kaderisasi yang terbaik. Mekanisme pendukung dari tahapan ini adalah
form evaluasi rutin per kader, sehingga kita bisa mengetahui tingkat
partisipasi kader dalam pembinaan serta menguatkan basis penjagaan dalam
kelompok kecil yang sering kita kenal dengan mentoring. Mentoring akan
berfungsi sebagai kelompok penjagaan terkecil dari sebuah LDK. Pada tahapan
pembentukan ini, ilmu yang sudah didapatkan diharapkan sudah bisa menjadi
pemikiran dan gagasan yang kuat bagi kader dan siap untuk mengamalkannya.
Penataan /
Pengorganisasian ( Tandzhim )
Setelah kader dibina, mulailah LDK menata
potensi potensi kader menajdi sebuah untaian tali pergerakan yang harmoni.
Setiap kader mempunyai kelebihan masing-masing. Ada kader yang pandai menghafal
Qur’an, maka jadikanlah ia sebagai pengajar tahsin dan tahfidz. Ada kader yang
gemar aksi atau demonstrasi, maka tempatkanlah ia di garda politik. Ada kader
yang gemar mengadakan kegiatan, maka tempatkanlah ia di kepanitiaan. Ada kader
yang hanya gemar belajar, maka proyeksikan ia agar menjadi asisten dosen dan
ketua lab di masa yang akan datang. Ada kader yang suka bertualang, maka
tempatkanlah ia sebagai relawan sosial LDK. Ada kader yang senang berpikir,
maka tempatkanlah ia sebagi tim strategis. Ada kader yang gemar menggambar,
maka tempatkanlah ia sebagai tim desain LDK. Kader harus ditempatkan sesuai
dengan potensi yang dimiliki. Walaupun seorang pimpinan LDK punya wewenang
untuk menempatkan kader sesuai dengan harapan pimpinan, akan tetapi menempatkan
kader sesuai keinginan dan potensi akan menghasilkan sebuah kesinambungan
dakwah yang harmoni dan tidak terjadi pembunuhan karakter kader. Pemahaman ini
perlu di pahami, bahwa kader kita adalah manusia, bukan mesin yang bisa
dipindah-pindah sesuai dengan keinginan pengguna. LDK harus mampu memanusiakan
manusia. Kalo memang harus ada yang berkorban di LDK, maka pemimpin lah orang
paling tepat. Kader adalah objek dakwah untuk pimpinan LDK.
Kader dengan amanah , seperti tumbuhan
dengan habitatnya. Kaktus tidak mungkin hidup di pantai dan rumput laut tidak
mungkin hidup di padang pasir. Begitulah analogi kader, jika pimpinan
memaksakan seorang kader ditempatkan di tempat yang tidak sesuai, maka pembunuhan
karakter akan terjadi. Penyediaan ladang beramal dari LDK pun harus ditambah
seiring bertambahnya kader. Ada beberapa LDK yang menyesuaikan komposisi dan
bentuk struktur organisasi dengan jumlah kader, atau bisa juga dengan
memberikan kader tempat beramal di lembaga lain, sebutlah mahad kampus, BEM,
himpunan, Unit mahasiswa dan sebagainya.
Poin paling penting adalah bagaimana
kader dakwah bisa memiliki amanah di mana pun, dengan catatan, kader selalu
melakukan setiap hal dengan paradigma dakwah yang baik. Dimanapun anda berada
frame dakwah harus tetap terinternalisasi. Kenapa kebijakan seperti itu yang
dikembangkan ?. Karena LDK harus mampu
menyediakan kader yang bisa mengisi berbagai pos di masa yang akan datang.
Dalam tahapan yang sudah lanjut, terutama untuk LDK yang sudah stabil. Kader
diharapkan selalu memiliki empat peran dalam satu waktu, yakni ;
- Mentor ( pembina ), seorang kader LDK harus aktif membina dan dibina. Dengan membina kelompok mentoring rutin, atau mengisi ta’lim rutin. Peran ini adalah peran murni seorang da’i yang diharapkan bisa menjadi peran utama kader dakwah
- Penentu kebijakan strategis ( syura ), kader didik untuk bisa memimpin dan berpikir. Oleh karena itu kader harus mempunyai tanggung jawab sebagai anggota syura ( rapat strategis ) di lini yang sesuai dengan kapasitas kader saat itu. Dengan berpikir strategis ini diharapkan kader terbiasa untuk berpikir startegis dan komprehensif, sekaligus menumbuhkan jiwa pemimpin.
- Pelaksana operasional ( teknis ), selain sebagai pemegang kebijakan di suatu tingkatan LDK, kader juga diharapkan bisa berperan dalam tatanan operasional atau kita sering kenal dengan pekerjaan teknis. Sehingga kader akan selalu berada dalam peran sebagai atasan dan bawahan dalam waktu bersamaan. Keseimbangan ini akan membentuk jiwa kerjasama yang baik. Contoh dalam kasus ini adalah, seorang kader berperan sebagai tim inti panitia kegiatan ( dalam hal ini dia sebagai anggota syura ) dan juga sebagai pelaksana operasional di tatanan LDK ( berkoordinasi dengan pengurus inti LDK ).
- Akademik, kader dakwah pun perlu memiliki kompetensi akademik yang baik. Oleh karena itu, peran terakhir yang tak kalah pentingnya adalah, kader bisa berperan dalam bidang akademik atau di bangku kuliah dan lab. Peran yang bisa diambil antara lain, ketua kelas, ketua kelompok tugas, koordinator lab, ketua praktikum, asisten dosen, atau aktif dalam penelitian dan lomba ilmiah. Memiliki kader yang memiliki IP baik adalah harapan besar LDK. Dengan IP yang baik, sebetulnya akan memudahkan pergerakan dakwah kita di kampus.
Eksekusi dan
peralihan objek kaderisasi menjadi subjek kaderisasi ( Tanfidzh )
Tahap terakhir dalam siklus kaderisasi.
Pada tahapan ini seorang kader dakwah sudah bisa berkontribusi secara
berkelanjutan dan sudah siap untuk menjadi subjek kaderisasi bagi objek dakwah
yang lain. Kaderisasi merupakan siklus yang terus-menerus dan selalu lebih
baik. Fase eksekusi ini juga di isi dengan monitoring kader dan evaluasi
berkala, agar sistem kaderisasi yang dijalankan di LDK selalu lebih baik.
Dengan monitoring dan evaluasi ini, diharapkan bisa memberikan masukan dan
perbaikan bagi perencanaan siklus kaderisasi selanjutnya. Pada dasarnya tahapan
kaderisasi seperti ini, varian dan inovasi akan bisa sangat berkembang pesat di
metode, kurikulum, flow materi,
perangkat pendukung dan kebijakan manajemen SDM lainnya.
Fase eksekusi ini juga sudah
menghasilkan kader yang memiliki dorongan untuk berkerja, dan perlu di ingat,
karena seorang kader saat ini sudah memegang peran sebagai pelaku atau subjek
kaderisasi, maka kader pun perlu dibina dengan siklus yang baru. Pada dasarnya
seorang kader akan dibina sesuai dengan siklus ini, yang membedakan adalah pola
dan isi dari setiap tahapan. Seringkali, LDK tidak membina kader tahap lanjut,
atau bisa dikatakan pembinaan untuk pengurus harian lebih sedikit ketimbang
kader mula. Oleh karena itu pada LDK yang sudah cukup stabil, diharapkan
mempunyai alur dan kurikulum serta metode kaderisasi yang berbeda untuk setiap
tingkatang ( angkatan ) kader. Dengan membuat sistem kaderisasi seperti ini,
maka LDK akan menjadi mesin pencetak kader yang solid dan militan secara
terus-menerus. Membangun sistem kaderisasi yang kuat adalah aset berharga untuk
lembaga dakwah kampus.
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer


0 komentar:
Posting Komentar