Skripsi Oh Skripsi (Part 1)

Posted by Unknown On 18.35



 
Oleh Ummy Kultsum

Ngerjain skripsi itu butuh lingkungan yang mendukung. Orang tua yang mendukung. Ibu Kost yang mendukung. Kakak-kakak yang mendukung. Adik-adik yang mendukung. Teman-teman yang mendukung dan... dompet yang mendukung! Hehehe.
Jangan salah! Lingkungan yang nggak mendukung itu bukan mereka yang ramai-ramai membuat spanduk bertuliskan: DILARANG MENULIS SKRIPSI!
Bukan! Bukan itu! Cukuplah lingkungan dikatakan tidak mendukung jika saat kamu membutuhkan referensi dan kamu harus ke perpustakaan, tiba-tiba Ibu Kost bilang,
“Mba, jangan ke mana-mana, ya! Kasian anak-anak sendirian di rumah. Ibu ada tugas keluar kota sampai hari Minggu.”
“Mba, anterin Embah ke Rumah Sakit, ya.. Embah mau kontrol jantung,” pesan Embah Kost hari Seninnya.
“Bu, aku ijin ke perpus, ya?” ucapku dengan muka penuh harap hari Selasa pagi.
“Sebentar! Itu kayaknya motor sudah lama nggak diservis deh. Gimana kalau ke bengkel dulu aja? Udah nggak ada kuliah, kan?”
“Eng..nggak sih, Bu...” Hiks, aku menyesal bilang ujiannya udah selesai kemarin.
Terus, pas mau berangkat ke perpus...
Pretek..pretek.. Byuuurrrr! Suara hujan mengguyur tanpa ampun.
Rabu.
“Yes.. goes to library! Syubidu-bidu.. la la la..” Aku senang banget bisa ke perpus walaupun belum tahu buku apa yang mau dibaca. Pokoknya bisa ke perpus dulu deh. Dan pas sampai…
MAAF UNTUK SEMENTARA PERPUSTAKAAN LIBUR KARENA PETUGAS SEDANG LIBURAN KE ANCOL.
Aku langsung lemas melihat deretan tulisan yang menempel di pintu perpustakaan.
“Ke toko buku aja... pasti nggak tutup!” saran Rani pas aku curhat.
Emm.. iya, bisa..bisa! Bisa nggak jalan motor aku besok, gara-gara nggak ada bensinnyaaaaaaa! Aaarrggghhhhh!
***
Namaku Lila. Itu tadi cuplikan keseharianku pekan ini. Pekan edisi galau. Maklum, menginjak kepala tujuh (maksudnya semester tujuh) dengan kondisi keuangan keluarga pas-pasan, juga ibu yang sudah tua dan sakit-sakitan, mau-nggak-mau aku harus segera nulis makhluk bernama: SKRIPSI! Titik.
Aku ngekost, tepatnya numpang di rumah dosen. Memang makan, tidur, listrik, sama toilet gratis, malah dapat inventaris motor, uang buat servis dan uang bensin. Oya yang disebut terakhir itu ada keterangan waktunya... kadang-kadang. Hiks.
Ibu kost itu orangnya sibuk. Maklum, beliau di bagian Pusbangker (Pusat Pengembangan dan Kerjasama) kampus, jadi hampir tiap bulan ada jadwal pergi ke luar kota, bahkan luar negeri. Bapak kost sedang lanjut studi doktoral. Dengan kata lain: sibuk juga.
Waktu awal-awal aku ngekost semester lima, Bu Kost kayaknya nggak tega-tega amat sama aku. Tapi sekarang...
“Mba, jangan lupa cuciannya nanti dijemur, ya! Abis itu bantuin di dapur, ya!” begitu biasanya kalau jam 6 pagi Bu Kost bernyanyi. Mending kalo cuciannya dikit, ini udah banyak, mana berat, terus harus naik lantai lima pula. Bisa-bisa aku jadi sebesar Samsons meski harus setegar Rossa. Double hiks.
“Mba... kucingnya tolong ditungguin ya, itu di depan sendirian. Kalau diculik kasian nanti,” begitu lagu Bu Kost kalau beliau nggak nyuruh ngejemur. Maklum kucingnya Bu Kost itu kucing langka, Persija gitu deh alias hasil silang kucing Persia sama kucing Jawa. Hihihi. Oya masih ada rutinan pagi lainnya: nganter anak-anak sekolah! Aku kan ngojeg juga, hiks... hampir lupa.
Siang!
“Mba, jangan lupa jemput anak-anak, ya. Abis itu anterin ke tempat les.”
Sore!
“Anak-anak sudah di jemput semua belum, Mba?”
Grrrrrrrrrrrrrr!
Kalau ada kuliah aku bisa nolak itu semua. Tapi gimana dengan skripsi yang keterangan lengkapnya: b-e-l-u-m m-u-l-a-i?
Aku bingung. Bingung alasan apa lagi yang harus kubikin buat nolak tugas dari Ibu Kost. Orang judulnya aja belum ada. Aaarrrghhhh!
Skripsi.. Oh.. Skripsi..


dr: Annida Online



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Lika-liku Laki-laki Tak Laku-laku (Bagian 1)

Posted by Unknown On 18.29



                                                Penulis: Nurul Badriah

Di gazebo kampus Universitas Lika-Liku Kehidupan (disingkat Unilik), seorang laki-laki duduk termenung.  Salah satu kakinya ia tekukkan dan dengan alas kedua punggung tangannya ia meletakan dagu di atas lututnya. Garis wajahnya tampak begitu letih. Wajahnya pun tampak lebih tua dibandingkan mahasiswa kebanyakan. Maklum, tahun ini adalah tahun keenam ia berada di kampus Unilik. Semua teman angkatannya sudah lulus, bahkan ada yang sudah punya  4 anak. Ia masih punya jatah satu tahun di kampus yang sangat ia cintai itu. Namun, jika menurut kehendaknya, ia tak ingin meninggalkan kampus yang penuh kenangan indah itu.
“Bang Rio, lagi ngapain? Ye, lagi ngelamun apaan, tuch?” Wiwin, adik tingkat di program studinya membuyarkan lamunan laki-laki itu.
“Eh, adek. Lagi ngelamunin adek.”
“Mulai dech. Wiwin tuh ga suka digombalin, tau, gak?”
“Meskipun Wiwin gak suka, Wiwin tetap jadi inspirasi Abang.”
“Halah, Abang tuh gak berhenti-berhenti gombalnya, tapi  gak dapet-dapet pacar.”
“Eits, gini-gini Abang gak mau pacaran. Abang mau ta’aruf aja sama ukhti-ukhti yang pake jilbab lebar itu.”
“Jiaah, parah. Gimana mau ta’aruf sama ukhti-ukhti, Abang  aja gak jadi akhi-akhi.”
“Wiwin lari saja sana. Abang lagi mau sendiri.”
“Iihhh, bener-bener lagi galau kayaknya, nih?”
“GALAU = God Always Listening Always Understanding.”
“Eh, tumben Abang beres. Apa udah mau jadi akhi-akhi, ya?”
“Pergi ga luuu!”
“Takuuuuut, Bang Rio udah mau ngeluarin taringnya.” Wiwin melet ke arah Rio dan berlari menuju mushala yang tak jauh dari gazebo.
Rio cuek saja. Anak kecil, pikirnya. Tapi, sejenak ia tercenung dengan kata-kata Wiwin. Mungkin Wiwin benar juga. Ia harus berubah. Tapi, apa tidak terlambat? Ia sudah mahasiswa semester banyak. Ia menghela nafas panjang.
“Bang Rio, ngapain sendirian di situ?” Kini Teti, anak program studi Sejarah menyapanya.
“Lagi istirahat, Ti, abis jalan jauh tadi, sesat pula.”
“Emang jalan ke mana, Bang? Kok bisa sesat?”
“Jalan ke hatimu.”
“Yaelah, lurus aja Bang kalo jalan ke hati Teti.”
“Iya, tapi tadi tuh banyak candi-candi, terus banyak manusia purba juga, jadi sulit nemuin hati Teti.”
“Wah, bau-baunya gak enak, nih, ujungnya kalo udah ngomong gitu. Teti duluan aja dech, Bang. Daaa....” Potong Teti. Kali ini, ia tak perlu mengusir seperti Wiwin. Teti sudah lari duluan.
Sepertinya belum lama Rio duduk di gazebo ini. Sudah ada penggangu-pengganggu yang membuat kepalanya puyeng. Dari kejauhan ia melihat seorang gadis mungil berjilbab biru muda menuju mushola. Sepertinya ia memang harus segera lari dari tempat ini. Gadis itu pasti akan lebih mengacaukan harinya.
***
“Sarah, kamu suka ke taman, ya?”
“Kok tahu, Bang?”
“Karena kamu udah bikin hati Abang berbunga-bunga.”
“Wah, Abang ada-ada aja, Sarah jadi malu.”
“Eh, Sarah. Kok hati Abang begetar, ya?”
“Karena deket Sarah, kali, Bang?”
“Eh, gak ding, ternyata HP Abang yang bergetar.”
“Hahaha… Abang bikin suasana ancur aja. Udah bagus-bagus dialognya. Masak ujungnya gitu?” Sarah, gadis mungil itu tertawa lepas mendengar akhir dialognya dengan Rio. Rio memang pasangan gombal yang pas untuknya.
“Abang udah mau ke jurusan, Sar, mau nemui Bu Yati. Mau bimbingan.”
“Bimbingan apa, Bang? Skripsi?”
“Bukan, bimbingan biar dapet hatimu.”
“Jiaah...!”
“Abang pegi dulu, ya?”
“Hati-hati, Abang.”
Di jurusan Budaya dan Seni, Program Studi Seni Lukis. Rio duduk berhadapan dengan Bu Yati. Dosen pembimbing skripsinya.
“Rio, kamu mau sampai kapan bertahan di kampus ini?”
“Sampai hati ibu luluh.”
“Ckckck, apa-apaan kamu, Yo? Kamu ini, ibu dapet laporan. Kamu sering ngegombalin adik-adik tingkat kamu, ya?”
“Galau, Bu. Skripsi ga, kelar-kelar, istri gak dapet-dapet, ibu gak acc-acc Bab I saya, hati ibu gak luluh-luluh liat wajah saya,”
“Masya Allah, baru kali ini, Nak, ibu dapet mahasiswa bimbingan yang rada-rada aneh.”
“Bukan aneh, Bu, tapi unik.”
“Ya, terserah kamu lah. Pokoknya besok apa yang ibu coret hari ini sudah diperbaiki. Ibu kebetulan besok ada di kampus.”
“Cepet banget, Bu?”
“Kamu ini, kemarin-kemarin udah dikasih kesempatan utnuk nyantai, sekarang gak ada lagi kesempatan untuk nyantai.”
“Iya, ampun, Bu, besok saya ngadep lagi.”
“Ibu tunggu besok di sini.” Tegas Bu Yati, dosen pembimbing Rio yang super duper sabar itu.
***
Rio keluar ruang dosen dengan wajah sumringah. Bagaimana tidak, Bu Yati akhirnya meng-acc Bab I skripsinya! Dunia rasanya dipenuhi bunga-bunga, mawar, melati, semuanya indah. Loh?! Kemudian ia layaknya aktor India yang bernyanyi serta menari di tengah-tengah taman, memutari tiang listrik, dan hujan-hujanan. Ups! Kali ini kok benar-benar basah?
“Eh, sialan lo, Ko! Mengacaukan suasana hati gue aja!” Umpat Rio yang mendapati Koko, teman yang senasib dengannya itu menyemprotnya dengan air minum mineral.
“Hahaha... lo juga sich, jalan sambil senyum-senyum sendiri, gue kira lo kesambet tadi.”
“Enak aja, lo, gini-gini gue rajin sholat, rajin ngaji, rajin...”
“Bohong lu! Terus apa hubungannya?” Potong Koko.
“Pacaran!” Rio ngedumel dan meninggalkan Koko kebingungan sambil garuk-garuk dada.
Rio melangkahkan kaki menuju gazebo depan mushala. Sejak gazebo ini dibangun, ia merasa jiwanya telah tertaut di sini. Sudah banyak banget cerita tentang lika liku hidupnya di kampus Unilik yang ia tumpahkan di sini. -ukan mencoret-coret. Bukan, tapi ia hanya ngomong dengan tiang gazebo!!! Hari ini ia mau ngomong, bab I udah di acc bu Yati!!! Yeaaah… setelah sekian semester akhirnya ia melewati tantangan di bab I. 
***
Wisuda ke 109 Unilik akan dilaksanakan dua bulan lagi. Tapi, ia baru berada di bab III, itu pun sudah bolak-balik ruang dosen 3 kali sehari untuk bimbingan tapi masih belum di-acc.
“Kamu ke perpustakaan pusat, cari skripsi yang mirip-mirip sama punya kamu.” Bu Yati mengakhiri bimbingan ke-tiganya hari ini.
“Iya, Bu.” 
Tanpa ba-bi-bu, Rio menuju perpustakaan pusat. Menaiki anak tangga sambil menghitungnya itu sesuatu, ya? Rio tiba-tiba merasa hebat sebab ia sudah tahu jumlah anak tangga perpustakaan pusat. Totalnyaaa... ada 10 anak tangga, saudara-saudari! Di anak tangga terakhir, Rio meloncat dan teriak memasuki pintu perpustakaan sambil mengangkat tangan kanan yang ia kepalkan. “Yeaaaaaah!!!”
Taraaa… kok perpustakaan pusat ada anak-anak yang lagi melingkar? Salah satu di antaranya ada yang menulis di papan tulis. Isinya:
Rapat DPM KM Unilik
Wadaaaaw... Rio salah masuk ruangan, saudara-saudari! Ia malah masuk sekret Dewan Perwakilan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Unilik yang berada tepat di belakang perpustakaan pusat! Apa yang terjadi dengan Rio? Semua mata tertuju padanya dan rapat pun terhenti. Rio mematung dengan satu tangan masih di atas persis patung Liberty.
“Maaf, ada apa, Mas?” Tanya seorang mahasiswa yang tadi menulis di papan tulis. “Ada yang bisa kami bantu?”
Rio menurunkan tangannya pelan-pelan, “Saya, saya mau numpang lewat.” Jawab Rio asal. “Ya, saya mau numpang lewat, saya mau ke perpustakaan pusat, lewat sini bisa?”
“Owh, iya bisa, Mas. Cuma pintunya lebih sering ditutup karena ruangan ini sekret kami. Kenapa gak lewat pintu depan aja, Mas?”
“Gka ada sensasinya, lewat sini lebih oke kayaknya.” Rio asal-asalan.
“Owh, silahkan, Mas. Den, buka pintu samping, mas ini mau lewat.” Perintahnya dengan salah satu di antara mereka yang berada di dekat pintu.
“Permisi, permisi...” Rio membungkuk lewat sambil menenteng sepatu tanpa berdosa di depan orang-orang yang sedang rapat.
Haha... Rio baru tahu, tangga belakang perpustakaan pusat ternyata bukan untuk pintu masuk perpus, melainkan sekretariat salah satu ormawa di kampusnya. Tanpa dosa, ia melenggang menuju ruangan di perpus. Wadawww... ini perpustakaan apa labirin? Ia bahkan tak tahu harus ke kanan atau ke kiri. Terpenting bukan ke depan, soalnya itu pintu keluar.
Dengan insting yang dirasa jitu, akhirnya ia memilih jalur kiri. Jalan entah berapa meter, ia menaiki tangga, dan disana ia menemukan ruangan yang ada bukunya. Dengan percaya diri tingkat tinggi, ia masuk ruangan dan duduk manis depan seorang cewek manis.
Baru lima menit, ia merasakan keanehan, saudara-saudari! Ia tak menemukan skripsi bahkan buku-buku pun tak ada. Hanya sekumpulan tulisan dan sejenis majalah di ruangan ini.
“Mbak, mbak, mau tanya.” Rio memberanikan diri mengajak cewek di depannya bicara.
 Bersambung...........................
from: Annida Online
 http://annida-online.com/artikel-8664-likaliku-lakilaki-tak-lakulaku.html




Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

MUBES Kedua LDK SAR Hadirkan Ketua Baru,

Posted by Unknown On 08.11


Malam Ahad, 15 Februari 2014 bertempat di sekeretariat LDK SULTAN ABDURRAHMAN. Merupakan  sejarah dan momentum yang sangat luar biasa dan pada malam ini kami melaksanakan agenda yang merupakan sebuah keniscayaan dalam setiap organisasi yaitu MUBES LDK STAI SAR yang kedua sekaligus Laporan pertanggungjawaban kepengurusan sebelumnya.

        Agenda yang dihadiri oleh 25 orang peserta ini menghasilkan keputusan yang menyatakan bahwa ketua LDK Sultan Abdurrahman masa jihad 2014-2015 diamanahi kepada Akh Azlan.

Tiba waktunya ketika ketua LDK Terpilih memberikan sambutan pada jam 22.10 WIB, seperti biasa air mata membasahi pipi sang ketua, dan pekikan takbir menghangatkan suasana,,giroh pun kembali muncul dengan keyakinan LDK masa jihad 2014 akan lebih baik dari LDK sebelumnya,,Allohu Akbar!!!!!
“ Kesatuan gerak niat kita, adalah keniscayaan untuk berkontribusi di LDK yang kita cintai ini, setiap agenda tak akan berjalan dengan baik bila kita tidak saling membantu dan bekerjasama” pesan Azlan dalam kata sambutannya.

        Mudah-mudahan dengan terpilihnya akh. Azlan sebagai ketua bisa membawa LDK lebih masif dalam menjalankan dakwah kampus, dan bisa menjadi qudwah bagi UKM lain,,Amin Ya Robbal Aalamin,,
Allohu Akbar!!!!!!!!!!!!!!!!!!!



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

perjalanan Bersama Al Quran Syaikh Fahd Al Kandary (Dubbing B.Indonesia) eps 1-2

Posted by Unknown On 20.30

 
Episode 1 dan 2



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Protokol # 05 Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Mandiri Egois !!!

Posted by Unknown On 09.36





“afwan akhi, kami masih mengurusi masalah internal”
“maaf , kami belum bisa menjalani pendampingan ke LDK lain, karena kami masih harus persiapan penyambutan mahasiswa”
“LDK kami masih banyak masalah, belum  bisa memikirkan kampus lain, kami sedang penguatan internal”
-------------------
Atau ada kisah seperti ini
-------------------
“di sebuah kota di pulau jawa terdapat sebuah LDK dari kampus negeri yang mapan, mengadakan sekolah mentor untuk persiapan mentoring tahun depan. Kegiatan ini diikuti oleh 120 peserta yang sudah terseleksi dengan baik.....  akan tetapi, 500 meter dari kampus tersebut ada sebuah LDK yang dimana pengurus inti nya tidak mendapatkan pembinaan ( mentoring ), karena tidak ada seorang pun yang mau membina disana”
“di sebuah LDK lain, yang juga terkemuka, dan juga berasal dari kampus sangat besar , LDK ini seringkali mengadakan kegiatan kelas lokal, bahkan nasional, dan tergadang beberapa agenda kaliber internasional. Sudah sangat terkenal LDK ini menjalankan agenda syiar yang sangat menakjubkan. Ta’lim dan kajian jurusan sudah seperti agenda rutin, sehingga kader bingung mau ikut yang mana, karena setiap jurusan mengadakannya..... akan tetapi  ternyata di kampus-kampus sekitar ( dan berada dalam satu wilayah-sebutlah kabupaten-), LDK nya bahkan untuk mengadakan sebuah kajian rutin sangat sulit, dan sesekali mengadakan kajian, sudah ibarat sebuah kesuksesan yang sangat baik”
“di sebuah LDK lain, di Indonesia, LDK ini terkenal dengan kekuatan LDK yang mengakar, sehingga sudah ada dan kuatnya lembaga dakwah di tingkat fakultas, bahkan jurusan. LDK ini bisa dikatakan LDK yang sangat banyak dari jumlah kader.... akan tetapi tidak jauh dari LDK tersebut, banyak kampus yang bahkan untuk melegalkan LDK saja sulit”
----------------
Apakah ini realita di Indonesia.... jawabannya iya... LDK yang sudah mandiri, hanya sibuk mengurusi keadaan di kampusnya.. mentoring yang belum jalan, syiar yang belum efektif, hutang masih banyak, kader yang melemah dan masalah klise yangseakan-akan dibuat-buat.
Sahabat-sahabat semua, pertanyaan saya untuk anda semua, para penghuni LDK mandiri atau mapan?
Mau sampai kapan anda menunggu kampus anda baik ... ?
Menurut saya, hingga hari kiamat, kampus anda tidak akan baik ...
Kenapa ?
Karena kebutuhan dan kondisi ideal setiap LDK akan meningkat seiring perputaran waktu. Lima tahun yang lalu bisa saja kita mengatakan, keberhasilan LDK adalah ketika LDK ini memiliki sisitem kaderisasi terpadu. Nah, tahun ini sistem terpadu itu sudah berjalan, tapi kita belum mengatakan LDK kita sudah baik.
Kenapa ?
Karena parameter keberhasilannnya juga meningkat..
Saat ini anda bisa mengatakan bahwa standar keberhasilan LDK adalah ketika setengah mahasiswa muslim mengikuti mentoring, tahun depan anda akan mengatakan lain, lima tahun lagi anda akan mengatakan lain.
 Apakah kita harus menunggu LDK kita baik baru kita membantu, melayani dan mem-back up kampus lain ? sampai kapan mereka harus menunggu ?
Sahabat kader LDK yang Allah sayangi, perlu kita pahami bahwa LDK lain yang notabenenya tetangga kita saudara kita juga butuh bantuan. Masih banyak LDK yang tidak bisa mengadakan kegiatan mentoring karena tidak ada mentor yang kompeten, masih banyak LDK yang untuk membuat buletin saja sangat sulit, karena berbagai faktor sebab, masih banyak LDK yang tidak punya dana untuk memulai usaha, masih banyak LDK yang untuk memilih ketua saja, perlu waktu lama, karena tidak ada kader yang tersedia, masih banyak LDK yang butuh perhatian dan bantuan anda semua , butuh bantuan kita semua.
Saya berbicara kepada –khususnya- semua LDK yang berasal dari kampus-yang ngakunya-besar. Kalau memang anda semua punya harga diri, buktikan itu dengan pelayanan, dengan membantu percepatan di kampus sekitar. Jangan egois dengan hanya dengan memikirkan apa yang bisa anda lakukan untuk memperbesar LDK anda.
Saya berani berkata, untuk semua ketua LDK –yang katanya sudah mandiri- kalau hanya untuk membuat LDK anda besar,lebih baik  anda turun jadi ketua LDK. Bersyukurlah sedikit dengan apa yang sudah Allah kasih ke kampus dan LDK anda. Buktikan dan balas semua yang telah Allah berikan dengan punya visi , bagaimana dengan kehadiran anda sebagai sebagai pemimpin LDK bisa memajukan LDK lain , minimal yang berada di propinsi atau minimal sekali  yang berada di kota tempat LDK anda berada.
Kalau kita lihat, sekarang ... LDK mana yang betul-betul peduli pada LDK lain ( kecuali PUSKOMNAS tentunya-itu juga karena tanggung jawab ) ? mana mantan-mantan koordinator PUSKOMNAS ? mana para LDK yang sudah baik itu membagikan dan menyebarkan “surga” nya ke kampus lain ?
Kalau bukan LDK mandiri yang bergerak siapa lagi ? siapa lagi yang akan peduli dan mempercepat perkembangan LDK lain ?
Ironi jika sebuah LDK bisa web yang di andalkan untuk media syiar, akan tetapi sangat banyak LDK yang menggunakan millist saja tidak bisa
Ironi jika sebuah LDK bisa membuat buku panduan mentoring, sedangkan sangat banyak LDK lain yang menggunakan konsep mentoring yang hanya copy-paste dari internet atau dari buku
Ironi jika ada sebuah LDK yang meng-semarak-kan prosesi pemilihan ketua LDK, sedangkan banyak LDK yang proses pemilihan ketua LDK tampak sepi, karena kekurangan kader
Ironi jika ada sebuah LDK yang mempunyai dana yang sangat besar di kas, bahkan punya aset yang bisa dijadikan uang, sedangkan banyak LDK yang harus mengutang untuk mengadakan sebuah kajian
Ironi jika ada sebuah LDK yang sengaja memperbanyak jumlah departemen dalam struktur organisasi karena memilki banyak kader, sedangkan banyak LDK yang sengaja mengurangi jumlah departemen dalam struktur karena kekurangan kader
Ironi jika sebuah LDK bisa mempunyai sebuah sekertariat yang sangat besar, sedangkan saudara saudara kita di sulawesi masih berjuang untuk melegalkan LDK
Ironi jika kita bisa nyaman berdakwah.sedangkan masih banyak LDK yang berdakwah dalam kegelisahan
Ironi jika kita mengeluh “saya Cuma satu-satunya kader dakwah di kelas” sedangkan saudara kita di Unpati ambon tetap semangat berdakwah dengan berkata “saya satu-satu mahasiswa muslim di kelas”
Ironi jika kita mengeluh, sedangkan mereka menanti uluran tangan kita dengan senyuman
Kalau memang kita satu tujuan, kalau memang kita satu visi, kalau memang kita bersaudara.. maka buktikanlah..
FSLDK di dirikan untuk mempercepat perkembangan LDK di Indonesia. FSLDK di dirikan bukan untuk memperbesar kampus yang sudah besar. FSLDK di dirikan untuk membuat semua LDK maju bersama, baik bersama, kuat bersama, dan bersinar bersama.

-------------
Tulisan ini ditulis untuk –khususnya- semua LDK yang sudah mandiri dan semua LDK yang akan mandiri ( supaya pas jadi mandiri sadar diri ), dan sebagai pengingat bagi saya sendiri yang juga merupakan ketua LDK mandiri.
Mohon maaf jika ada yang tersinggung, emang tujuannya untuk  nyinggung, kalo yang gak merasa juga gak apa-apa.
----------
Ditulis oleh
ridwansyah yusuf achmad
Kepala LDK GAMAIS ITB
Koordinator PUSKOMDA FSLDK Bandung Raya
Direktur Pusat Pelatihan Manajemen Lembaga Dakwah Kampus
ridwansyahyusuf@gamais.itb.ac.id
yusuf_ahdian@yahoo.co.id




Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer