Ketika Futur Berbuah Pahala dan Hidayah

Posted by Unknown On 21.49 No comments

Dalam kitab Lisaanul ‘Arab karangan Imam Ibnul Mundzir rahimahullah, futur secara bahasa berarti diam setelah giat, dan lemah setelah semangat. Secara istilah, futur berarti meninggalkan atau mengurangi amal keta’atan yang telah biasa dilakukan. Futur pada dasarnya merupakan hal yang sangat harus diwaspadai sebab ia dapat menjadi penyakit yang sangat berbahaya dan membawa bencana yang besar bagi pengidapnya. Namun, ternyata futur tidak selalu membawa bencana. Futur bahkan dapat membuahkan pahala dan hidayah jika ditangani dengan tepat, sesuai dengan petunjuk Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling faham dengan segala masalah yang dialami umatnya dan Beliau adalah orang yang paling sayang kepada umatnya. Seluruh problematika umat telah Beliau tunjukkan jalan keluarnya, termasuk futur. Beliau bersabda,
“Setiap amal itu ada masa-masa semangat dan setiap masa-masa semangat ada masa futur. Barangsiapa yang masa futurnya tetap dalam sunnah, maka dia telah mendapat hidayah (beruntung). Namun barangsiapa yang masa futurnya membawa kepada selain sunnah, maka dia telah celaka.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad, 2/158-188, Shahih Al-Jami’ As-Shaghir, no. 2147).
Rasulullah ﷺ mengabarkan kita dalam hadits tersebut bahwa futur adalah hal yang sangat manusiawi, lumrah, bahkan pasti terjadi dan tak dapat terelakkan. Setiap amal memang memiliki masa semangat, namun setiap masa semangat memiliki masa futur. Artinya, setiap orang yang mengamalkan suatu keta’atan, mau tidak mau, ia pasti mengalami masa futur.  Jika digambarkan, grafik amal berbentuk seperti kurva parabolik dimana pada awalnya ia semakin meninggi, semakin semangat, hingga mencapai puncak kurva, kemudian akan menurun perlahan demi perlahan. Nah, ketika amal mengalami penurunan, manusia muslim terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah mereka yang masa futurnya justru memberikan pahala dan hidayah. Bagaimana bisa demikian? Ternyata, masa futur membawa mereka kepada sunnah, tetap dalam koridor sunnah.
Ketika ia merasa futur dalam melakukan suatu ibadah atau amalan sunnah (futur haram hukumnya dalam ibadah wajib sebab ibadah wajib sekali-kali tidak boleh ditinggalkan dengan alasan apapun), ia siasati dengan beralih kepada amalan lain yang juga sunnah. Misalnya, jika ia telah terbiasa membaca Al-Qur`an, kemudian futur melandanya, ia mengganti bacaan Al-Qur`annya dengan amalan sunnah yang lain seperti memperbanyak dzikir atau memperbanyak shalat sunnah. Ketika ia futur dalam melaksanakan shalat malam, ia beralih dengan memperbanyak sedekah. Ketika ia futur dalam melaksanakan puasa sunnah, ia beralih dengan membantu urusan orang lain, dan sebagainya, sampai masa futurnya berlalu sehingga ia bisa kembali melaksanakan amal yang telah menjadi kebiasaannya.
Ia bisa mengimbangi penurunan dalam suatu amalan sunnah dengan melaksanakan amalan sunnah yang lain. Dengan begitu, ia telah mendapatkan pahala, bahkan dengan pahala yang lebih besar sebab kaidah mengatakan, “suatu amalan, semakin terasa berat di hati untuk diamalkan, semakin besar pahalanya”. Masa futur tentu menjadikan beramal apapun terasa lebih berat di hati. Maka pada saat-saat itulah ia mendapatkan pahala ekstra ketika berhasil melaksanakan suatu amal; yaitu pahala mengamalkan amalan tersebut, plus pahala melawan rasa berat di hatinya. Ia adalah orang yang masa futurnya lebih membawa ke arah muraqabah (pengawasan Allah ‘Azza wa Jalla). Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,
”Saat-saat futur bagi seorang yang beramal adalah hal wajar yang harus terjadi. Seseorang yang masa futurnya lebih membawa ke arah muraqabah (merasa diawasi Allah ‘Azza wa Jalla) dan pembenahan diri, selama tidak meninggalkan amalan fardhu dan tidak melaksanakan yang diharamkan, diharapkan ketika pulih ia akan berada dalam kondisi yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Sekalipun sebenarnya, aktivitas ibadah yang disukai adalah yang dilakukan secara rutin oleh seorang hamba tanpa terputus.” (Madarijussalikin, 3/126).
Perlu diperhatikan, futur ada dua macam; futur parsial dan futur total. Futur parsial adalah futur yang menyerang sebagian amal saja, tidak seluruh amalan. Inilah futur yang relatif aman dan memiliki kemungkinan besar untuk menjadi futur yang mendatangkan pahala dan hidayah. Adapun futur total, ia adalah futur yang melanda semua amalan. Ini adalah jenis futur yang sangat berbahaya. Futur jenis ini memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk mendatangkan pahala dan hidayah. Golongan kedua adalah golongan yang mayoritas mengalami futur jenis ini.
Golongan kedua adalah orang yang merugi dan celaka akibat futur yang mereka alami. Mereka inilah yang masa futurnya menjadi penyakit berbahaya dan membawa bencana yang besar. Mengapa? Karena masa futur justru membawa mereka kepada selain sunnah, yaitu perbuatan dosa, baik itu maksiat, bid’ah, syirik, bahkan bisa sampai kepada kekufuran. Amalan sunnah yang telah menjadi kebiasaannya malah berubah menjadi amalan dosa. Ia menghabiskan masa futurnya dengan bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka inilah orang-orang yang disebut celaka dalam hadits di atas.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar: